Keesokan paginya, saat sinar matahari mulai menyinari kampung Sinto, seorang wanita muda tampak berdiri ragu di depan pintu sebuah rumah.

"Aliah, apa yang kau lakukan di sana?" sapa seorang wanita tua yang melintas. "Mengapa kau hanya diam di situ sejak tadi?"

"Aku ingin membangunkan Kak Leena, tetapi aku mendengar suara aneh di dalam," kata Aliah.

Wanita tua itu mendekati Aliah dan berusaha mendengarkan suara yang dimaksud. Setelah memperhatikan dan mendengar suara desahan, wanita itu segera memahami situasinya. "Aliah, kita harus segera pergi dari sini. Jangan ganggu Kak Leena," ujarnya dengan tegas.

Meskipun bingung, Aliah mengikuti langkah wanita tua itu dan meninggalkan rumah itu menuju tempat Lala berada.

Sebuah suara terdengar dari dalam rumah. "Lynx, aku sangat lelah. Bisakah kita berhenti? Aku sudah tidak sanggup lagi," kata Leena di sela-sela pertarungannya dengan Lynx, keringat mengalir deras di tubuh mereka berdua.

"Maafkan aku, Leena. Aku terlalu bersemangat. Selain itu, aku tidak menduga rasanya akan seperti ini," balas Lynx sambil mencium bibir Leena.

"Hati-hati jika kamu berani melakukan hal ini dengan orang lain. Jangan temui aku lagi," ancam Leena dengan wajah serius.

Lynx menganggukkan kepalanya, lalu bangun dan membiarkan Leena beristirahat. Ia memperhatikan tubuh Leena yang dipenuhi keringat. Kenangan saat mereka pertama kali bertemu dan mengalami berbagai pengalaman bersama terlintas di benaknya.

"Sayang, tidak ada salahnya mandi dulu agar segar sebelum tidur, kan?" tanya Lynx, melihat Leena memejamkan matanya.

"Aku tidak kuat bangun. Aku ingin istirahat sebentar," kata Leena, lalu tertidur dengan cepat.

Lynx tersenyum melihat Leena yang tertidur kelelahan, suara hembusan napasnya terdengar lembut.

Lynx duduk dalam posisi meditasi, berusaha memulihkan energinya sambil merencanakan strategi selanjutnya untuk melawan suku Monrest dan melindungi para penduduk. Dalam keheningan, pikirannya melayang pada berbagai kemungkinan, menganalisis kekuatan dan kelemahan musuh, serta mencari cara terbaik untuk melindungi yang terkasih.

***

Beberapa hari kemudian, di sebuah kamar, terlihat Lynx dan Leena tengah menjalani aktivitas rutin mereka setiap malam. Sejak mereka melepaskan kerinduan setelah terpisah lama, setiap kesempatan dimanfaatkan untuk bermesraan.

Namun, suasana siang itu terasa berbeda. Kampung Sinto, yang biasanya dipenuhi aktivitas, menjadi semakin ramai ketika sekelompok besar orang dari berbagai suku mendekati kampung Sinto.

"Lynx! Leena! Bangunlah!" teriak Lala berkali-kali di depan pintu rumah, berusaha membangunkan Lynx dan Leena yang masih terjebak dalam aktivitas mereka.

"Lynx, berhentilah. Lala memanggil. Sepertinya ada hal penting yang membuatnya memanggil kita berulang kali," kata Leena, mengingatkan Lynx.

Dengan malas, Lynx segera berpakaian dan keluar untuk menemui Lala, sementara Leena membersihkan diri agar terlihat lebih segar.

"Pengantin baru, akhirnya keluar juga nih," sindir Lala, yang bisa menebak apa yang dilakukan Lynx dan Leena.

"Ada apa, Lala? Apa yang terjadi? Kenapa kamu pagi-pagi begini sangat heboh?" tanya Lynx, pura-pura tidak mendengar sindiran Lala.

"Pagi? Halo, Tuan Besar. Ini sudah siang. Matahari bersinar terik di luar," jawab Lala sambil tertawa.

Lala, yang biasanya bersikap dingin dan serius, kini terlihat ceria. Beban yang dia rasakan dan aktivitas sehari-harinya untuk meneliti telah menekan sifat aslinya yang ramah dan suka bergaul. Sejak kehilangan ayahnya, Lala menjadi lebih pendiam dan fokus belajar untuk menemukan ayahnya.

"Baiklah, ada apa?" tanya Lynx sambil menutupi rasa malunya.

"Di luar terdapat banyak rombongan yang baru tiba, dan kepala suku beserta rombongan itu menunggumu di sana. Segeralah bersihkan dirimu dulu, lalu segera kesana. Keringatmu bau," sindir Lala, melirik tubuh Lynx yang masih terlihat jejak bekas keringat. Lala tertawa dan pergi meninggalkan Lynx sendirian.

Lynx segera membersihkan dirinya bergantian dengan Leena, lalu mereka segera menyusul Lala ke perbatasan kampung.

Setibanya di perbatasan kampung, Lynx dan Leena menatap rombongan yang terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak, yang membawa perbekalan serta senjata sederhana.

"Wah, sepertinya ada yang sudah bisa berjalan normal nih," goda Lala saat melihat Lynx dan Leena datang. Selama beberapa hari setelah kejadian runtuhnya gua, Leena terlihat kesulitan melangkah. Para penduduk yang sudah dewasa memahami apa yang terjadi, tetapi mereka hanya tersenyum karena menganggap hal itu wajar bagi Lynx dan Leena yang sudah dewasa.

Sementara itu, hanya Lala yang suka menggoda Leena mengenai cara jalannya yang aneh, seringkali mengejeknya sebagai pengantin baru.

Ketua suku Sinto yang melihat kedatangan Lynx tersenyum kecil. "Lynx, itu mereka. Suku-suku yang kamu kenal. Uksa, Raksa, Yaksa... dan Auksa?"

Lynx mengerutkan dahi. "Suku Auksa?"

Lynx merasa bingung karena dia tidak pernah menjalin hubungan dengan suku Auksa. "Apakah kepala suku yakin, mereka suku Auksa?" Tanya Lynx memastikan.

"Kamu bisa bertanya langsung kepada mereka. Temuilah mereka," kata Kepala Suku Maret sambil mengajak Lynx untuk mendekati rombongan yang sedang beristirahat.

Saat berjalan, Lynx melihat sosok-sosok yang sangat dikenalnya, Rara, Narendra, Kanha, Widhi, Uban, Raka, dan Arkha. Lynx juga melihat Marni yang sedang menggendong anaknya.

"Lynx!" teriak Kanha yang berlari menuju ke arah Lynx dengan gembira dan memeluknya.

Lynx lalu menemui dan menyapa mereka semua. Terlihat kegembiraan di wajah mereka yang lelah.

"Lynx, kami sudah menjelajahi tempat ini. Sungguh luar biasa! Pertahanannya sangat mengesankan," kata Widhi dengan senang saat melihat Lynx.

"Tentu saja. Dengan bantuan kalian, suku Uksa yang ahli dalam hal jebakan, tempat ini akan menjadi lebih kuat lagi," kata Lynx.

"Jalan menuju tempat ini juga sangat aman. Kami tidak menduga ada jalur yang bebas dari serangan makhluk mutasi. Selama ini, kami selalu takut untuk mendekati area ini karena banyaknya makhluk mutasi yang berkeliaran," kata Raka sambil memegang bahu Lynx.

"Baguslah, karena kalian bisa tiba di tempat ini dengan selamat," jawab Lynx.

"Lynx!" seru Uban dengan nada ramah. "Kami membawa kabar baik."

Lynx menatap Uban, yang berdiri di samping seorang pria tua yang belum pernah dilihat sebelumnya. Dengan rasa ingin tahu, Lynx memandang mereka. "Apa yang terjadi?"

Uban menjawab, "Saat kami memutuskan untuk melakukan perjalanan, kami memberitahu suku Auksa dan mengajak mereka bergabung dengan kami. Selama ini, suku Yaksa tetap berkomunikasi dengan suku Auksa. Ketika mereka mengetahui bahwa suku Yaksa bergabung dengan suku lainnya, Auksa memutuskan untuk ikut."

Pria tua yang berdiri di samping Raka memperkenalkan dirinya. "Aku Rasyid, Kepala Suku Auksa. Kami memutuskan untuk bergabung setelah mendengar tentang perjuangan kalian melawan Monrest."

Lynx terkejut, tetapi sebelum dia sempat berbicara, Rasyid melanjutkan dengan nada sedih, "Orang-orang kami banyak yang ditangkap dan dibunuh oleh suku Monrest sebagai persembahan, termasuk anakku. Mereka semua dibunuh."

Widhi mengangguk dengan muram. "Kami semua kehilangan orang-orang kami karena Monrest. Kita tidak bisa membiarkan ini terus terjadi."

Rara dan Jelita yang merindukan Lynx segera mendekat. "Lynx!" kata mereka bersamaan. Mereka saling berpandangan sebelum memandangi Lynx dengan senyuman lebar. Sementara itu, Lala yang melihat kedua wanita mendekati Lynx segera mendorong Leena, memberi isyarat untuk ikut mendekati Lynx.

"Rara, Jelita, perkenalkan Leena," kata Lynx sambil menunjuk Leena yang mendekat dan berdiri di sampingnya. Lynx kemudian memperkenalkan Lala kepada yang lainnya.

Sementara itu, Rara memperlihatkan ekspresi yang sedikit berubah saat melihat Leena. Dia tidak menyangka bahwa wanita yang dikenalkan Lynx memiliki kecantikan yang luar biasa.

Di sisi lain, Jelita, yang mengenakan topeng di wajahnya, tampak tak menunjukkan ekspresi apa pun. Namun, di balik topeng itu, ekspresi wajahnya sangat mirip dengan Rara.

"wah sepertinya ada yang bakalan cemburu nih" batin lala.

Setelah bercakap-cakap sejenak dan saling memperkenalkan diri, Lynx kemudian meminta bantuan Kepala Suku Sinto untuk mengantarkan mereka semua ke tempat istirahat. Ketua Suku Sinto segera mengerahkan anggotanya untuk membawa rombongan pendatang itu ke lokasi yang telah dipersiapkan sebelumnya, sesuai dengan informasi dari Lynx.

Malam harinya, semua kepala suku dari Uksa, Raksa, Yaksa, Auksa, dan Sinto, beserta seluruh penduduk, berkumpul di lapangan tengah kampung Sinto untuk membahas masa depan mereka. Lynx duduk di tengah, merasa tidak nyaman di bawah tatapan penuh harapan dari semua orang.

"Lynx," kata Widhi dengan nada serius, "sebelum kita berkumpul malam ini, kami telah berdiskusi dengan para kepala suku lainnya dan kami semua sepakat. Kami ingin kau menjadi pemimpin kami."

Lynx mengangkat tangan, berusaha menghentikan mereka. "Aku? Pemimpin? Aku bahkan bukan bagian dari salah satu suku kalian."

Raka menimpali, "Tapi kau yang menyatukan kami. Kau yang memimpin kami melawan Monrest, meski tanpa meminta imbalan apa pun."

Narendra, yang duduk di dekat Lynx, tersenyum. "Mereka benar, Lynx. Kau satu-satunya yang bisa membawa kami maju."

Lynx menggeleng, merasa tidak pantas. "Aku hanya ingin membantu. Aku bukan seorang pemimpin."

Namun, Rasyid berbicara dengan nada tegas. "Kami telah kehilangan banyak orang. Kami butuh seseorang yang kuat, cerdas, dan memiliki visi untuk melindungi kami. Dan orang itu adalah kau, Lynx. Meski kami belum melihatnya secara langsung, kami telah mendengar semua hal yang telah kau lakukan."

Semua kepala suku, termasuk Leena, mengangguk setuju. Lynx memandang mereka satu per satu, melihat mata mereka yang dipenuhi keyakinan.

"Apakah ada yang tidak setuju mengangkat Lynx menjadi pemimpin kita semua?" teriak Raka sambil menghadap ke arah para penduduk.

Banu, yang selalu merasa iri dan kesal terhadap Lynx, ingin menyatakan ketidaksetujuannya. Namun, melihat situasi tidak mendukung, dia memilih untuk diam.

"Kami setuju!" teriak para penduduk serentak.

"Lynx! Lynx! Lynx!" teriak mereka, mendukung Lynx sebagai pemimpin mereka.

Akhirnya, Lynx menghela napas panjang. "Baiklah. Jika kalian semua benar-benar percaya bahwa aku pantas memimpin, aku tidak akan menolak. Tapi aku punya syarat."

"Apapun itu, kami akan menerimanya," kata Widhi.

Lynx berdiri, menatap semua orang dengan serius. "Karena sekarang kita adalah satu kesatuan, kita tidak lagi menjadi suku-suku yang terpisah. Kita akan menyatukan nama kita. Mulai sekarang, kampung ini dan nama suku kita, akan disebut suku Surya. Nama itu berasal dari gabungan nama semua suku kita, Sinto, Uksa, Raksa, Yaksa, dan Auksa. Surya juga berarti matahari, simbol harapan dan kekuatan."

Semua orang saling memandang, lalu mulai bersorak setuju.

"Kampung Surya!" seru Rasyid dengan penuh semangat.

"Kampung Surya! Suku Surya!" seru yang lainnya, diikuti oleh suara sorakan yang menggema di malam itu.

Dengan semangat persatuan yang membara, mereka semua berharap bahwa Kampung Surya akan menjadi simbol kekuatan dan harapan baru, membawa masa depan yang lebih baik bagi setiap anggotanya.

